Secara terminologi, kata iman berasal dari fiil madhi (kata kerja untuk waktu lampau) aamana yang berarti memercayai atau tunduk.1 Lafal iman merupakan bentuk mashdar (kata dasar) dari aamana yang berarti kepercayaan.
Dari segi etimologi, iman berarti kepercayaan yang teguh disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya, yang dimaksud dengan iman adalah menyatakan dengan perkataan, melaksanakan rukun-rukunnya, dan meyakini dengan hati.3
Jumhur ulama Ahlu as-Sunnah juga menyatakan bahwa yang dimaksud dengan iman adalah menyatakan dengan lisan, meyakini dengan hati, dan melaksanakan rukun-rukunnya. Pertama, menyatakan dengan lisan. Maksudnya, dia bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kedua: meyakini dengan hati. Maksudnya, meyakini dan memercayai dengan sebenar-benarnya dengan hati atas ketuhanan Allah dan kerasulan Muhammad, dan Ketiga: melaksanakan rukunrukunnya. Maksudnya, untuk dapat dinyatakan sebagai seorang yang beriman, orang tersebut harus mampu mengaplikasikan semua tindak-tanduknya sesuai dengan aturan syar’i, yaitu sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak tercampuri oleh keraguan sedikit pun. Akhirat lawan dari dunia. Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. Yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir. Alam gaib ialah alam yang tak dapat ditangkap oleh pancaindra. Percaya kepada yang gaib yaitu mengiktikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra karena ada dalil yang menunjukkan mengenai adanya, seperti adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat, dan sebagainya.
Hari akhir adalah bagian dari rukun iman yang wajib diyakini oleh umat Islam, hari akhir termasuk bagian dari keimanan atas perkara-perkara yang bersifat gaib; artinya sesuatu yang tidak mungkin dapat digambarkan oleh pancaindra manusia. Rasulullah saw. sendiri merupakan manusia pilihan Allah SWT dan manusia paripurna dibandingkan dengan manusia lain di muka bumi ini, tidak mengerti tentang itu.
Dalam sebuah riwayat dinyatakan, bahwa pada suatu saat Rasulullah kedatangan tamu seorang laki-laki yang kedatangannya tidak dimengerti oleh siapa pun yang bersama dengan Rasulullah saw. pada saat itu. Dia lalu menanyakan beberapa hal tentang masalah agama, salah satu pertanyaannya adalah mengenai hari akhir. Dia bertanya, “Wahai, utusan Allah! Adakah engkau mengerti tentang waktu datangnya hari akhir.” Rasulullah menjawab, “Tidakkah yang bertanya lebih mengerti.” Rasulullah saw. melanjutkan jawabannya, “Aku hanya akan menyebutkan tanda-tanda kedatangannya.”4
Realitas percakapan tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya permasalahan mengenai hari akhir merupakan perkara yang bersifat abstrak, yang tidak mungkin dapat diprediksi dengan rasionalitas manusia. Hal ini berarti hanya Allah yang mengerti tentang waktu datangnya hari itu. Karenanya, keimanan dalam hal ini disebut dengan keimanan yang bersifat ghaibiyat.
Keyakinan atas hari akhir merupakan rukun iman yang kelima dari enam rukun iman. Di dalam Al-Qur`an ataupun as-Sunnah, keyakinan atas hari akhir sering kali dibarengkan dengan bukti keimanan seseorang kepada Allah SWT. Rasionalisasinya, seseorang yang tidak beriman kepada hari akhir, ia tidak mungkin dapat dinyatakan sebagai seorang yang beriman kepada Allah SWT, karena Allah juga merupakan zat yang bersifat gaib.
Karenanya, Allah menegaskan,
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan
sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada
kitab (Al-Qur`an) yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitabkitab)
yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.
Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (al-Baqarah: 3-5)
No comments:
Post a Comment